Makna sebuah Pengabdian

Pernah di suatu ketika ada orang yang bertanya kepada saya, apakah profesi anda saat ini? Saya jawab: yaah terkadang saya hanyalah seorang PNS biasa, terkadang pula saya hanyalah seorang buruh tani, kadang pula saya seorang petani penggarap. Lalu si penanya balik nanya lagi… lho kok bisa seperti itu? Saya jawab sambil gurau… iya, profesi saya itu menyesuaikan dengan waktu kerja yang saya lakoni. “Ooow… gitu..” desah orang itu sambil ngangguk walaupun masih terlihat rasa penasaran dengan jawaban saya tersebut.

Ssanggah

Bagi saya, persetan dengan kata profesi. selama kita tidak mampu melakoni makna kata tersebut secara professional sehingga tercapai tujuan yang sebenarnya dari profesi yang kita sandang tersebut. Di jaman sekarang ini, banyak orang yang tidak mau mengakui bahwa dia sebenarnya belum mampu menunjukkan kualitas profesionalisme yang dia sandang atau mencapai tujuan akhir dari profesi yang dia jalani, tapi di suatu saat dia dengan sangat bangga mengatakan kepada orang-orang sekeliling bahwa dia adalah seorang profesional muda yang sukses, dibumbui dengan segala tetek bengek yang walaupun kalau diusut lebih jauh bahwa apa yang telah dicapai oleh orang tersebut tidak lepas dari ‘pengabdian’ orang lain yang menjadi pilar utama dari kesuksesan orang yang dengan gagah berani kecoar kecoar mengklaim keberhasilannya tersebut.

‘Pengabdian’. Ya … saya sangat ngiris mendengar kata pengabdian ini, kenapa? Ya kalau saya melihat ke dalam diri saya sendiri, terkadang saya bertanya dalam hati, seberapa dalam pengabdian yang sudah kamu lakukan dalam hicupmu? Menurut saya, pengabdian itu membutuhkan pengorbanan yang tulus dan ikhlas tanpa harus memikirkan seberapa banyak imbalan yang akan kamu terima, apakah itu imbalan berupa materi atau uang. Jujur saya akui, bahwa dalam perjalanan hidup saya sampai usia 45 tahun ini saya merasa bahwa saya belum banyak melakukan sesuatu yang berarti bagi sebuah pengabdian, saya bisa ambil salah satu contoh, saya belum banyak bisa mengabdikan diri saya kepada Sekolah di mana saya bekerja, bahkan terkadang saya malah menuntut balik berupa imbalan terhadap apa yang sudah saya kerjakan, padahal apa yang saya kerjakan itu tidaklah banyak artinya bagi Sekolah. Terus kalau ditinjau dari segi pengabdian, apakah itu sudah sesuai? Tentu tidak. Tapi tetap saya lakukan itu, tentu ada alasannya. Di sisi yang lain terkadang saya juga melihat orang-orang yang melakukan kerja yang sama dengan kerja saya dan bahkan dari segi kwalitas hasil pekerjaaanya jauh lebih rendah dari kwalitas pekerjaan saya, malah menuntut imbalan yang jauh lebih banyak dari saya.

PadmasanaSaya sadar sesadar sadarnya, bahwa apa yang sudah saya lakukan itu tidaklah benar, dari segi apapun. Apalagi dari segi arti sebuah Pengabdian. Atau secara singkat, sesungguhnya saya belum mampu memaknai Pengabdian dengan sebenarnya, tapi saya bertekad dan selalu berusaha di suatu ketika nanti kalau Tuhan masih mengijinkan saya hidup lebih lama, untuk mengabdi dalam arti yang sebenarnya, dan mudah-mudahan situasi jaman seperti ini segera berganti ke arah yang lebih baik sehingga saya betul-betul mampu melaksanakan kewajiban hidup yaitu mengabdi pada pekerjaan atau profesi yang saya lakoni ini.

Terus kalau saya ceritakan apa saja yang sudah saya lakukan dan perbuat untuk sekolah selama ini? Waduh, sayaa aatakut kalau kalau para pembaca nggak percaya, atau paling tidak meragukan kebenarannya. Menimbang hal itulah saya tidak mau menulis apa-apa saja yang sudah saya lakukan dan berikan kepada sekolah, tapi yang jelas jujur saya akui bahwa saya akan selalu berusaha sebaik dan sekeras mungkin demi kemajuan sekolah.

About Nyoman Wiastra

Saya adalah salah satu guru di SMP ini yang paling sering tidak mendapat perhatian, celakanya saya sering dianggap remeh dan tidak mempunyai kopetensi apapun dalam menjalankan tugas saya sehari-hari. Namun, saya tetap berbesar hati dan terus melakukan yang terbaik untuk sekolah sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Kemudian saya berharap kepada semua rekan-rekan guru di SMPN 4 Pupuan untuk tetap bersemangat walaupun terkadang kita mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan yang datang dari segala penjuru.... semua itu adalah tantangan buat kita untuk selalu berjuang berdasarkan Dharma.

Posted on 13 Januari 2011, in Penulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: