Sebuah Ketegaran Hati

Pak De Sukarya 2Hari ini kami guru guru SMP Negeri 4 Pupuan secara bersama-sama pergi melayat ke Rumah Duka Pak Made Sukarya di Pupuan.Beberapa hari sebelum kami memutuskan untuk berangkat kesana, di Sekolah kami semua sempat ngobrol-ngobrol bersama tentang kepergian dari Ibu (Istri Pak Made). Kami semua membicarakan segala sesuatu terkait dengan kenangan-kenangan yang tersimpan selama kepeminpinan Pak De di Sekolah kami ini. Banyak cerita manis terlontar dari bibir para guru-guru, terutama guru pada masa kepeminpninan beliau. Cerita tentang keharmonisan hubungan keluarga beliau dengan sang istri dan juga anak-anaknya.

Pak De Sukarya 1Keluarga beliau memang patut dijadikan salah satu contoh keluarga yang sederhana ditengah kegemerlapan harta materi yang mereka miliki. Sebuah hubungan kekeluargaan yang sangat rukun dan dilandasi cinta yang sejati di antara mereka. Seperti yang sudah saya tulis dalam Blog sebelumnya tentang “I Made Sukarya,S.Pd,M.Pd/Kepala Sekolah Pertama”, bahwa Beliau adalah seorang Tokoh yang sangat sederhana dan bersahaja, memang… betul adanya dan terbuktilah manakala situasi yang beliau alami saat ini. Di sisi yang lain, bicara tentang sang Istri yang beliau sangat cintai, tidak jauh berbeda dengan Beliau. Mereka di mata kami adalah sepasang insan yang penuh cinta kasih kepada sesama. Dan seterusnya… begitulah cerita-cerita yang keluar dari bibir-bibir insan dan kerabat serta keluarga besar Sekolah kami tentang Beliau dan Istrinya.

Pak De SukaryaSesaat sebelum kami berangkat, kami semua merasa seperti tidak percaya bahwa yang kami tengok saat ini adalah Istri dari sosok Bapak yang sangat kami kagumi. Tapi kami semua mempunyai keyakinan, bahwa cerita ini semua sudah diskenario oleh Ida Sang Hyang Prama Kawi, dan kami pun pasrah dan menegarkan hati kami untuk melihat Ibu untuk terakhir kalinya dengan ucapan doa, smoga beliau bisa cepat menyatu dengan Tuahan, smoga segala kebaikan menyertai kepergian beliau menuju kesenyapan nan abadi. Istirahatlah “Ibu” dengan tenang agar kami yang ditinggal juga merasa tenang untuk menunggu giliran. Amien. Cobalah perhatikan raut wajah Pak De dalam gambar, nampak beliau sangat tegar menerima kenyataan ini. Raut wajah ini semakin menambah kekaguman kami, saya khususnya, kepada kebesaran hati Beliau dalam menerima kenyataan ini. Kami hanya bisa berucap “Turut Berduka Cita atas kepergian Ibu”.

About Nyoman Wiastra

Saya adalah salah satu guru di SMP ini yang paling sering tidak mendapat perhatian, celakanya saya sering dianggap remeh dan tidak mempunyai kopetensi apapun dalam menjalankan tugas saya sehari-hari. Namun, saya tetap berbesar hati dan terus melakukan yang terbaik untuk sekolah sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Kemudian saya berharap kepada semua rekan-rekan guru di SMPN 4 Pupuan untuk tetap bersemangat walaupun terkadang kita mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan yang datang dari segala penjuru.... semua itu adalah tantangan buat kita untuk selalu berjuang berdasarkan Dharma.

Posted on 11 Februari 2011, in Ragam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: